Tren Budaya Kaum Muda di Bandung
![]() |
| Pejalan Kalcer. Foto: suarmahasiswaawards.teropongmedia.id |
Bandung. Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar nama Bandung? apakah dingin? Paris Van Java? atau bandung lautan api? apapun itu yang ada di benak kalian, semuanya tergantung terhadap pandangan pribadi masing-masing. Kota Kembang ini bukan hanya sekedar kota yang memiliki banyak julukan, tetapi di dalamnya juga berisi budaya-budaya yang mempengaruhi tren di seluruh Indonesia. Mulai dari fashion, musik, lifestyle, dan budaya digital (konten kreator). Beragam tren baru yang ada di Indonesia, rata-rata awalnya dari Bandung, Bandung secara konsisten dikenal sebagai salah satu kota trendsetter utama, terutama di bidang industri kreatif, kuliner, dan fashion. Meskipun tren gaya hidup digital seringkali bermula dari Jakarta sebagai pusat ibu kota, Bandung tetap mendominasi dalam hal tren jajanan, fashion lokal, dan gaya hidup kreatif.
Bandung dikenal sebagai kota kreatif sejak dulu karena perpaduan unik antara iklim sejuk, sejarah sebagai Paris van Java (pusat model/gaya hidup), serta besarnya komunitas anak muda kreatif, desainer, dan musisi lokal. Kolaborasi anak muda dalam distro, industri fashion, musik, seni, dan teknologi, didukung komunitas kuat dan pemerintah yang suportif (seperti Bandung Creative Hub), menetapkannya sebagai pelopor ekonomi kreatif di Indonesia. Bandung bertransformasi dari pelopor era distro (distribution outlet) dan clothing line indie pada akhir 90an sampai dengan awal 2000an menjadi pusat fashion lokal yang ikonik menuju era digital yang melahirkan banyak konten kreator kreatif. Evolusi ini didorong oleh budaya komunitas, skate, dan musik, yang kini beradaptasi melalui pemasaran media sosial dan kolaborasi global.
Dari komunitas menjadi industri
Pada tahun 2000-an menjadi awal meledaknya budaya distro. Pada era ini, Bandung dikenal sebagai kota kreatif, dan distro tumbuh subur di mana-mana. Terutama di kawasan seperti Jalan Trunojoyo, Jalan Sultan Agung, dan Jalan Cihampelas. Pada saat itu, memiliki baju dari distro dianggap sangat keren karena anti-mainstream dan mendukung brand lokal. Hal yang membuat distro menarik adalah distro bukan hanya soal jualan baju. Di balik itu semua, ada komunitas, kultur musik indie, dan gaya hidup anak muda urban yang saling mendukung satu sama lain. Banyak musisi, skateboarder, visual artist, dan desainer lahir dari lingkungan pada era ini. Bisa dibilang, distro adalah cerminan gaya hidup bebas dan kreatif khas Bandung. Karakteristiknya cenderung fokus ke arah Streetwear. Streetwear khas Bandung memiliki karakteristik unik yang berakar pada budaya indie, skena kreatif anak muda, dan semangat Do It Yourself (DIY) yang kuat. Sebagai salah satu pusat fashion di Indonesia, Bandung berhasil menciptakan identitas streetwear sendiri yang membedakannya dari kota lain. Brand seperti Maternal Disaster, Screamous, Mischief Denim, Pots Meet Pop, dan lain-lain menjadi contoh ikonik dari Streetwear khas Bandung.
Pada tahun 2010-an, brand-brand asal bandung seperti yang disebutkan di atas, mulai dikenal secara nasional dan internasional melalui internet. Pada masa ini, brand-brand tersebut tidak lagi hanya bergantung pada Store Offline, tetapi mereka juga mulai bergeser ke pemasaran digital menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram dan Website Resmi. Seiring berjalannya waktu, perkembangan Marketplace mulai semakin dikenal masyarakat luas setelah muncul aplikasi Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee. Pada era ini menjadi awal mula transisi yang awalnya dari Offline Store ke Online Store.
Media sosial sangat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan tren anak muda di Bandung. Platform seperti Facebook, Instagram, TikTok dan X (twitter) menjadi penggerak dalam tren fashion contohnya distro. Bukan hanya fashion saja, tren kuliner dan gaya hidup Gen-Z juga kerap muncul di media sosial. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media tempat remaja merancang identitas sosial dan mengikuti tren terkini.
Bentuk-bentuk tren budaya masa kini
Membahas soal tren budaya saat ini, ada beberapa tren yang menurut saya menjadi ciri khas tren anak muda di Bandung. Yang pertama ada Fashion and Thrifting Culture: Perkembangan thrifting di Bandung saat ini (awal 2026) masih populer namun menghadapi dinamika ketat akibat larangan impor pakaian bekas. Pasar utama seperti Cimol Gedebage sempat terdampak, namun tetap menjadi pusat perburuan fashion unik. Untuk sementara, thrifting beralih ke format preloved (barang branded bekas pemakaian pribadi yang telah dipilih sebelum dijual) dan thrifting amal (Pasaraya).
Meskipun para pedagang sempat khawatir karena larangan pemerintah. Pasar Cimol Gedebage, Pasar Poncol, Pasar Antik Cikapundung, dan Babe Cihapit masih menjadi tujuan utama para thrifter. Dengan adanya larangan pemerintah itu, tak sedikit toko thrift yang mulai bergeser ke preloved, bukan tanpa alasan banyak konsumen menilai bahwa preloved lebih baik dibanding dengan thrifting. Alasannya karena kualitas barang preloved yang umumnya lebih terjamin, seringkali bermerek (branded), dan terawat. Mengapa demikian? karena barang preloved berasal dari koleksi pribadi, bukan tumpukan bal segel. Barang preloved sering kali masih dalam kondisi sangat baik, bahkan ada yang belum pernah dipakai, hal ini memberikan nilai estetika dan higienitas lebih tinggi dibanding thrift yang rentan cacat.
Barang preloved umumnya dirawat dengan baik oleh pemilik sebelumnya, mengurangi risiko mendapatkan produk cacat atau rusak. Dikarenakan barang koleksi pribadi, kebersihan dan keaslian barang lebih terjaga dibandingkan barang thrift yang seringkali harus melalui proses pembersihan intensif karena berasal dari bal segel luar negeri. Preloved sering kali menawarkan produk fashion bermerek atau barang high-end dengan harga lebih miring, menjadikannya pilihan utama untuk berburu barang second berkualitas. Barang preloved juga seringkali merupakan koleksi khusus atau vintage yang jarang ditemukan di toko biasa, memberikan gaya yang lebih personal dan unik.
Kemudian yang kedua ada Musik dan Gig Indie: Bandung dikenal sebagai pusat skena musik independen dan underground terbesar kelima di dunia, dengan sejarah panjang event komunitas yang konsisten melahirkan musisi berbakat. Event legendaris seperti Homicide & Skena Underground Bandung, Bandung Berisik, dll telah menjadi wadah utama musik keras di Bandung. Pada era ini, nama band Jasad, Burgerkill menjadi booming dan terkenal berkat penampilannya di banyak event pada tahun 90an sampai dengan tahun 2000an.
Bergeser ke era modern. Perubahan kultur musik di Bandung mulai berganti genre yang awalnya didominasi oleh Skena Underground (Metal, Punk, Hardcore) beralih ke Pop Indie, Alternative, dan Folk, pergeseran genre musik ini terjadi karena genre tersebut dinilai lebih ramah di telinga banyak kalangan. Karena pergeseran ini muncul banyak sekali nama band yang baru seperti The S.I.G.I.T, Mocca, Pure Saturday, Homogenic (sekarang HMGNC), Rocket Rockers. Hingga kini, kultur musik di Bandung selalu mengalami pergeseran dan kemajuan yang terus berkembang.
Yang ketiga ada Lifestyle dan Komunitas: Lifestyle di Bandung terutama pada kalangan kaum muda cukup unik. Di bandung ada istilah Coffee Shop Culture, Coffee Shop Culture adalah gaya hidup urban yang matang, di mana kedai kopi menjadi ruang ketiga (selain rumah dan kantor) untuk bersosialisasi, bekerja (WFC), dan healing di tengah suasana kota yang sejuk. Tren ini menunjukkan keberagaman konsep dari cafe hidden gem di gang sempit, rooftop tropis, hingga kedai vintage yang terintegrasi dengan pemandangan alam asri, menjadikannya pusat kreativitas dan ekonomi lokal. Sebenarnya gaya hidup ini tidak hanya berlaku di kalangan mudanya saja, kalangan tua juga kerap kali sering terlihat di banyak Coffee Shop viral di Bandung seperti Maison De La Sol, 1994 Coffee and Creative Space, dan banyak lagi Coffee Shop viral yang lain. Dengan adanya Coffee Shop Culture ini, membuat para kaum muda bergejolak untuk mengeksplor Coffee Shop terbaru dan viral.
Hal tersebut juga diakui oleh Nabilla Putri Ramadhani salah satu mahasiswi Universitas Padjadjaran yang melihat fenomena ini secara lebih kritis. Menurutnya, coffee shop culture memang membuka ruang eksplorasi bagi anak muda.
“Menurut saya, bagus sih karena bikin anak muda jadi punya tempat eksplor dan ketemu banyak orang. Cuma kebanyakan juga ikut tren. Lagi hype ya semua ke sana, nanti pas udah bosen dan nggak terlalu hype pasti pindah lagi cari tempat baru.”
Ia juga menilai dinamika tersebut memaksa para owner Coffee Shop untuk terus berinovasi agar tidak tenggelam oleh tren sesaat.
“Tapi ada bagusnya juga, jadi tiap coffee shop punya ambisi buat bertahan. Yang berhasil biasanya yang konsepnya Aesthetic trus punya tempat yang setiap sudutnya itu cocok dijadiin spot foto .”
Pandangan ini menunjukkan bahwa Coffee Shop Culture di Bandung tidak hanya soal nongkrong, tetapi juga mencerminkan pola konsumsi generasi muda yang sangat dipengaruhi oleh tren digital sekaligus mendorong kompetisi kreatif antar pelaku usaha.
Kemudian pada komunitas ada Bikers Brotherhood MC (BBMC) Indonesia, komunitas yang didirikan di Bandung pada 13 Juni 1988, adalah salah satu klub motor klasik (Amerika & Eropa) paling terorganisir dan disegani di Indonesia. Berfokus pada persaudaraan (brotherhood) tanpa memandang SARA, komunitas ini aktif dalam kegiatan sosial, pelestarian lingkungan (Brotherhood for Nature), serta bisnis, dengan nilai-nilai 1% yang militan. Komunitas ini juga berisi orang-orang ternama. Beberapa figur publik dan artis tercatat pernah menjadi anggota kehormatan (honorary member) atau berpartisipasi dalam kegiatan mereka. Nama-nama besar seperti Budi Dalton, Ahmad Dhani (Dewa 19), Ridwan Kamil (Mantan Walikota Bandung dan Gubernur Jawa Barat) tercatat sejarah sebagai anggota pada komunitas ini.
Kemudian yang terakhir ada Budaya Digital: Budaya digital di Bandung pada tahun 2025-2026 merupakan perpaduan dinamis antara warisan kreatif lokal (khas Sunda) dan adopsi teknologi tinggi, yang menjadikan kota ini salah satu pemimpin indeks masyarakat digital di Indonesia. Budaya ini tidak hanya terbatas pada penggunaan gadget, tetapi telah merasuk ke dalam cara bekerja, berkolaborasi, dan berinovasi. Bandung dikenal sebagai tempat lahirnya banyak talenta digital baru, didukung oleh ekosistem kolaborasi yang matang antara komunitas, akademisi, dan pemerintah.
Salah satu contohnya yaitu Bandung Techno Park (BTP), BTP ini adalah pusat inovasi, teknologi, dan inkubator startup pelopor di Indonesia, berlokasi di lingkungan Telkom University, Bandung. BTP berperan sebagai jembatan antara akademisi, industri, dan pemerintah, berfokus pada riset terapan di bidang TIK (Telematika, Elektronika) untuk mendukung kewirausahaan dan pertumbuhan ekonomi. Didirikan pada 19 Januari 2010 melalui kolaborasi quadruple helix (Akademisi, Industri, Pemerintah, Masyarakat). BTP berlokasi strategis di kawasan Bandung Technoplex, di bawah naungan Telkom University.
Di setiap sudut Bandung, selalu ada cerita tentang anak muda yang sedang mencari jati diri. Di antara rak-rak thrift, panggung gigs kecil, sudut coffee shop yang estetik, hingga layar gadget yang dipenuhi konten digital, generasi ini terus membangun identitasnya sendiri. Bandung bukan hanya tempat tren dilahirkan, tetapi ruang di mana kreativitas diuji dan tumbuh bersama waktu.
Keindahan kota ini bahkan terabadikan dalam lagu. Seperti dalam lagu Dan Bandung dari The Panasdalam Bank yang berbunyi, “dan Bandung, bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka, lebih jauh dari itu, melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” Lirik itu seolah merangkum apa yang dirasakan banyak orang tentang Bandung ia bukan sekadar kota, melainkan ruang emosional yang menyertai proses tumbuh, jatuh, dan bangkitnya generasi muda.
Di kawasan Jalan Asia Afrika, terpampang kalimat yang sering dijadikan simbol romantisme kota ini: “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.” Kalimat tersebut bukan sekadar hiasan dinding, melainkan representasi bagaimana Bandung dipandang sebagai kota yang indah, hangat, dan penuh kreativitas. Keindahan alamnya, sejarahnya, hingga denyut komunitasnya menjadikan Bandung selalu punya ruang khusus di hati warganya.
Namun, di tengah pesatnya arus tren dan budaya viral, tantangan terbesar Bandung bukan hanya mempertahankan citra sebagai kota kreatif, tetapi menjaga agar kreativitas itu tetap berakar pada makna, bukan sekadar validasi digital. Sebab pada akhirnya, seperti lirik lagu yang terus dinyanyikan, budaya yang kuat adalah budaya yang mampu bertahan meski zaman berubah dan tren silih berganti.

